18 April 2013

Saatnya bongkar-bongkar

Begitu ditinggal sesama penghuni kamar 1 karena lulus dan akan menetap di kotanya, sekarang saya jadi sendirian. Nah, Saatnya bongkar-bongkar. Setumpuk barang-barang yang saya kumpulkan sejak semester satu saya pilah-pilah. Ya ampun, berkas-berkas pendaftaran awal pertama kuliah dulu masih ada. Jadwal registrasi dan segala macamnya. Leaflet UKM-UKM yang lagi promosi pas penerimaan mahasiswa baru juga masih saya simpan. Dari leaflet yang saya terima pas jadi maru, hingga leaflet yang saya bagikan pas sudah jadi mahasiswa senior. Juga berkas-berkas lain. Ya ampun, ternyata berkardus-kardus yang saya tumpuk itu, kertas-kertas yang penuh kenangan. 

Buang nggak ya?

Saya kembali memilah, memilih. Mana yang layak saya simpan, mana yang saya buang, dan mana yang harus saya bakar. Dibakar? Iya, file-file yang … ya, cukup saya sendirilah yang tahu, saya bakar saja. Semua file itu tidak mungkin saya bawa kalau nanti saya harus meninggalkan kota ini.

Dan, inilah yang suka membuat saya lama kalau sedang bongkar-bongkar semacam ini. (bakar-bakar, baca-baca, sobek menyobek, dan jeprat-jepret).

Mengapa jeprat-jepret?

Iseng saja sebenarnya. Mumpung ada momen bongkar-bongkar. Kalau nggak pas niat mbongkar gini kan takutnya nanti males merapikan kembali.
Ada beberapa file yang saya foto. Salah satunya adalah tulisan ini.



Saya terharu membaca tulisan ini. Sungguh. Percaya nggak kalau saya benar-benar meneteskan air mata? (Saya paling nggak tahan menahan tangis. Entah itu di depan umum, di depan siapa saja, di acara apa saja, kalau pengen nangis ya, aduuh …. Bukan mau obral air mata. Tapi pengennya ya nangis aja, nggak seneng nggak sedih. Nangis deh pokoknya).

Tulisan di foto itu, menutup kisah perjalanan saya dengan senior saya angkatan 2004-2005 di Al-Banna. Macam-macam pesan dan kesan yang saya dapat waktu itu. Tapi untuk kesempatan ini saya tidak mau ‘tidak berani’ mempublish-nya. Soalnya ada juga sih yang pedih mengiris-iris. Ada juga yang saya tidak merasa seperti itu tapi ditulisnya begitu. Cukuplah itu menjadi kenangan ‘teguran’ buat saya, agar saya selalu evaluasi diri. Oh iya, saya baru ingat kenapa saya masih menyimpan tulisan-tulisan itu. Itulah manfaatnya.

Kembali ke saat bongkar-bongkar.
Akhirnya, kamar saya sekarang lumayan rapi. Ya, lebih mendinglah daripada sebelumnya. Barang-barang saya juga sudah rapi. Bersiap kalau suatu saat harus makcling! pergi dari kota ini tiba-tiba. Hahaha! Kita tunggu saja! 

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Mohon tinggalkan pesan jika berkenan. :)