3 Oktober 2014

Titik Tolak


Pernah ya saking jengkelnya, saya biarkan adik ponakan saya makan hanya dengan nasi plus air garam. Mungkin kalau sudah besar nanti dia tahu hal ini, dia bisa saja memberi saya predikat “tante paling usil sedunia”. Hehehe!

Habis saya gemes karena pada saat itu dia tidak suka segala macam sayuran. Ada-ada saja alasannya. Sayuran hijau dia sebut “suket” atau dalam bahasa Indonesia berarti rumput, yang dengan kata lain yang dia maksud adalah pakan ternak.

Bahkan ketika di piringnya kecipratan secuil daun bayam, selama secuil daun itu masih kelihatan berwarna hijau, dia tidak akan doyan bahkan pernah “mutung” tidak mau makan hanya karena hal sepele itu. Makanya saya berusaha tega dengan membiarkan dia melahap nasi plus air garam. Mungkin sesekali dia perlu diberi “pelajaran”.


si kecil Fary

Tapi ternyata tidak selamanya dia tidak suka sayuran. Kabar baik ini sampai ke telinga saya karena dikabarkan langsung oleh pelakunya via telepon. Baru-baru ini saja.

Saya tanya kenapa sekarang suka sayuran padahal dulu tidak suka. Jawabnya, “kan dulu aku masih kecil, Te! Dan nggak tahu rasanya kalau sayur itu ternyata enak!” Beeeuuh Murid PAUD ini sudah bertingkah sok jadi anak gede sekarang. Tapi waktu saya konfirmasi ke kakak saya (mamanya dia), ada yang bikin saya ketawa geli karena alasan dia suka sayur pertama kali karena habis menelan permen karet. Sepemahaman dia, permen karet itu bisa membuat ususnya lengket sehingga biar tidak lengket harus sering-sering makan sayur.

Fary, keponakan saya itu, dengan makanan kesukaannya yang baru, membuat saya berpikir bahwa tidak selamanya orang berada pada satu kondisi yang itu-itu saja. Pasti ada perubahan. Meskipun dulu saya tidak terbayang bagaimana anak ini akan berubah menyukai sayur.

Perubahan itu dimulai dari sebuah titik yang namanya titik tolak. Kalau saya berusaha mendeskripsikan secara singkat, titik tolak itu seperti perjalanan yang semula lurus atau kondisi yang semula begini-begini saja, kemudian menemukan momen atau peristiwa yang menjadi batu loncatan untuk bertolak ke kondisi yang lain, yang berbeda dengan kondisi atau jalan lurus yang ditempuh sebelumnya.

Jadi bisa saja titik tolak ini adalah batu loncatan untuk berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Akan tetapi harap Optimizer catat, kita membahasnya di sini adalah titik tolak untuk berubah menjadi lebih baik saja.

Kembali kepada adik saya. Dia bertolak menjadi ‘suka sayur’ karena alasan yang sederhana menurut logika orang dewasa. Saya sendiri tidak tahu pasti. Jika nalarnya sudah jalan dan semakin memahami, apakah dia masih akan menyukai sayur atau tidak.

Nah, ini juga yang harus dipikirkan ketika bertolak pada kondisi yang berbeda dari sekarang. Bahwa kita berubah, harusnya bertolak dari pondasi yang kuat. Bukan asal-asalan saja, misalnya hanya karena ikut-ikutan. Bagaimana mungkin pondasi rapuh yang kita bangun padahal kita ingin berubah permanen menjadi orang yang baik hingga penutup usia. Akan tetapi kalau kita berubah awalnya karena terpaksa? Emm…, bagaimana ya? J

Meskipun sangat mungkin, orang berubah itu bertolak dari hal-hal yang tidak melulu besar. Orang bisa berubah hanya dengan hal-hal kecil, dari kebaikan-kebaikan ringan yang disebarkan orang lain, atau bisa juga karena membaca tulisan orang lain.

Siapa yang tidak ingin berubah menjadi lebih baik, Optimizer?!

Apakah Optimizer punya momen yang membuatmu berubah menjadi lebih baik? Coba ingat-ingat.


Selamat berakhir pekan dan Selamat Hari Raya Adha 1435 H.


8 komentar:

  1. Sama Mbak, aku dulu pas kecil jugak ngga sukak sayur. Tapi sekarang uda lumayan lah demen tumis kangkung. Wkwkwk.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weew...sayur kan banyak macemnya, Beb! Nggak cuma tumis kangkung. :)

      Hapus
  2. Keren ya keponakannya krn sudah mau makan sayur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :)

      Karena sudah terbiasa dengan rasanya mungkin Mbak El.

      Hapus
  3. Assalaamu'alaikum wr.wb, Sophie...
    Memang perubahan itu penting untuk kebaikan. Lucu sekali keponakannya ya, sudah tahu memberi alasan yang munasabah. itulah hasi kecerdikan dari makan sayur, agaknya...hehehe

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.
    SITI FATIMAH AHMAD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam Kak Fatim,
      iya saya sepakat karena setiap hari lingkungan kita juga berubah.
      Iya lucu. Hehehe...Kak Fatim bisa aja!

      Hapus
  4. kalo aku,berubahnya bukan melalui titik tolak Ma. Tapi titik hadap-hadap. Hadap kanan, hadap kiri, hadap kanan lagi, hadap serong kanan, hadap seroang kanan, maju jalan. :v

    Jadi, berubahnya nggak spontan belok dari titik awal, tapi perubahannya sedikit2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikau ada-ada saja istilahnya En. :D
      Tapi apapun itu yang penting bukan 'mundur' ya. Maju teruuus!!!! ;)

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Mohon tinggalkan pesan jika berkenan. :)