26 Oktober 2012

Namamu Selalu di Hati


Ini bukan judul roman picisan. Juga bukan judul FTV ataupun drama melankolis. Saya hanya sedikit membuka catatan lama. Baguslah kalau nanti bisa memberi inspirasi. Tsk, padahal saya bukan motivator macam Pak Mario Teguh.

Saat menulis ini saya teringat perjalanan hari Minggu kemarin. Ehm, di atas motor berkecepatan 70 km/jam, tiba-tiba teman seperjalanan saya bicara, yang terdengar di telinga saya begini, “Sorry ya Ndut, tahu nggak kamu kuajak jalan-jalan karena apa? Karena aku lagi pengen refreshing. Kamu pasti nggak akan percaya, aku lagi suntuk gara-gara aku cemburu sama seseorang!”

Motor saya pelankan. Saya beri kesempatan Ping, teman saya itu, untuk mengoceh semau yang dia suka. Biar semua kejengkelan di hatinya dia keluarkan. Karena bagi saya, enaknya orang curhat itu ya didengerin. Hem, mengalirlah semua cerita. Dari Matesih sampai Cemoro Sewu. Bisa kebayang kan panjangnya kalau di tulis? Tunggu dulu, lanjutannya masih panjang sampai berjam-jam nungguin penjual bakso di Cemoro Sewu sana, sampai turun ke Pasar Tawangmangu, sampai sejaman di atas jembatan penyeberangan depan terminal Tawangmangu, sampai menunggu hujan reda di warung makan. Intinya tentang perasaan.

Iya deh, iya. Saya mengerti apa yang kamu rasakan kok, Ping. Bukan berarti saya tidak pernah merasakannya. Justru karena saya pernah tahu rasanya sehingga saya mau menjadi pendengar yang baik untukmu. Ceile, kalau dia membaca tulisan ini, paling dia cengar-cengir. Kalau nggak, berarti saya bersiap kena bogem mentah. Hihi! Ping, izinkan kisahmu kutulis biar menginspirasi banyak orang.

Kembali ke roman picisan dalam catatan lama.

Saya masih punya catatannya di diary yang bertumpuk di sudut kamar. Hal buruk? Bukan. Saya mengaguminya, sama seperti anak-anak muda di belahan bumi yang lain ketika mereka mulai beranjak dewasa dan menyukai lawan jenisnya. Maka mengalirlah semua tentang sosoknya. Lazuardi. Kadang biru, kadang mendung, kadang panas, kadang hujan, kadang berawan. Ya begitulah warna-warnanya, menghiasi lembar-lembar kehidupan saya dan diary kesayangan saya.

Jadi kalau Ping tadi bilang sedang cemburu, ya pastinya saya juga pernah merasakan bagaimana pahitnya ketika Lazuardi digandeng beberapa teman-teman perempuan saya yang jauh lebih innocent daripada saya. Meskipun yang saya tahu Lazuardi bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lagipula bukan salah Lazuardi kalau dia popular. Hehe!

Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan saya, tentunya nggak boleh dong saya terlalu lebay dan mencari-cari alasan agar saya selalu memikirkan Lazuardi. Hidup saya kan sangat berarti, buat apa berkutat pada orang yang saya saja tidak tahu apakah dia pernah memikirkan saya? Tsk!

Untungnya saja, di ujung cerita Ping selama perjalanan hari itu, dia sudah menemukan pencerahan sebelum saya cerita tentang Lazuardi.
“Tapi Ndut, kata seniorku gini, buat apa Ping kamu memikirkan orang nggak jelas kayak gitu? Kamu terlalu istimewa untuk orang seperti dia.”

Saya senang Ping mendapatkan pencerahan akhirnya. Paling tidak dia berpikir dua kali untuk patah hati dan melakukan hal-hal konyol dalam hidupnya. Saya juga bersyukur pada akhirnya saya tidak lagi berkutat pada Lazuardi.

Dari sini saya berpikir kalau-kalau saya bisa membantu teman-teman saya yang seringkali mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Miris rasanya ketika mendengar semacam ini, Awan kan sekarang tidak lagi beramanah karena kasus VMJ. Ada juga, tahu nggak sih Samudera sekarang mengundurkan diri dari organisasi karena skandal dengan bawahannya. Lho, kamu nggak tahu kalau Azzura, Surya, Bulan, Rose, Jasmine, Bayu, Bintang, dan lain-lain itu juga terjerat kasus serupa? Astaghfirullah. Jadi sedih. Semoga saja mereka mendapatkan pencerahan seperti yang saya dan Ping dapatkan.

Pada akhirnya Ping mengirimi saya pesan pada malam harinya. “Minta do’a terbaiknya ya, Ndut. Biar sama Allah juga dikasih yang terbaik.”

Iya Ping, Allah Sang Pemilik dan Pencipta. Rabb tempat kita meminta apa saja. Yang Maha membolak-balikkan hati kita. Bukankah Dia sudah berjanji untuk memasangkan orang baik dengan orang baik? Tugas kita Ping untuk memperbaiki diri. Keep istiqomah! Maka dalam ukuran kita, rasanya lebih adil kalau kita memperbaiki diri sebelum kita meminta dari-Nya sesuatu yang baik.

Setelah ini, mungkin saya akan sangat jarang bertemu dengan Ping dan berbagi cerita lagi dengannya. Namun, semoga saja kebaikan selalu menyertai kita. Dan setelah ini, kita tidak lagi disibukkan dengan nama seseorang yang terukir di sudut hati.

Ping, terimakasih cerita dan inspirasinya. J

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Mohon tinggalkan pesan jika berkenan. :)