22 Desember 2011

FTS HARI IBU WR: AKU DAN EMAK

*tulisan ini diikutkan dalam Event HARI IBU WR 2011: FTS Kenangan Terindah Bersama Ibu
WR = Writing Revolution


Mungkinkah ini luka paling perih yang pernah kucicipi dalam sederet episode hidupku bersamamu, Emak?

Aku dilahirkan sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan. Mungkin alasan itu yang membuat Emak ikut-ikutan mendadaniku seperti kedua kakakku. Atau entah alasan ketidakberadaan Emak secara ekonomi karena beliau adalah single parent. Ah, apa pun alasannya kenyataannya aku tetap tidak terima. Bagaimana bisa seorang anak-anak laki-laki dipakaikan gaun di tubuhnya layaknya seorang anak perempuan?


Tapi nyatanya aku takluk. Kemana-mana berdandan seperti itu. Dan setelah aku dewasa, ejekan-ejekan tentang aku yang seperti anak perempuan menjadi senjata ampuh untuk membungkamku. Sialan! Emak, adakah hal yang lebih lucu lagi yang bisa kau lakukan padaku agar mereka tak sekedar mengoleksi satu lelucon yang menyakitkan tentang diriku?

Air mataku jatuh satu-satu di atas selimut tipis yang membungkus tubuh ringkih Emak. Emak hanya membeku di atas ranjangnya. Sudah satu bulan ini beliau terbaring bersama selembar kain lusuh. Matanya makin redup. Dagingnya semakin tipis. Dan perut Emak…. Masih ada pula orang yang tega menyebut itu adalah karena Emak kualat di masa mudanya. Sungguh tidak berperasaan.

Hatiku menjerit perih. Antara menyayangkan suara orang-orang itu dan merasa bersalah karena tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan mata bening emak yang makin suram.

Aku satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki Emak. Anak laki-laki yang tidak pernah mengenal siapa ayahnya dan mungkin tidak akan pernah tahu. Anak laki-laki yang tidak bisa melakukan apa pun  melihat Emaknya terbaring tidak berdaya. Anak laki-laki Emak yang hanya bisa duduk di sisi pembaringan sembari menggengam tangannya. Anak laki-laki Emak yang hanya bisa membetulkan letak selimutnya, membersihkan alas tidurnya agar tidak berbau pesing, menyuapkan sesendok bubur, menunggui Emak sampai tertidur.

Kini maut telah datang. Membawa Emak dengan segala penderitaannya. Memisahkan aku dan Emak dengan kenang-kenangan. Namun apa pun yang Emak tinggalkan, semua terlalu berharga untuk kulupakan. Semoga Tuhan menerima Emak.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Mohon tinggalkan pesan jika berkenan. :)