Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

22 Maret 2013

. . . . (2)


“Apa aku saja yang ngomong?”
“Tidak. Jangan, Mas. Aku takut tentu saja.”
“Wajarlah. Justru kalau kamu yang berani, dia yang takut.”
Sophie mengutak-atik kunci motornya. Tidak ada yang tidak beres. Kunci motor, helm, meja kursi di depannya semua baik-baik saja. Justru dia yang sedang tidak beres dan mengundang tatapan kasihan dari Mas Jo. Sudah terlanjur, pikir Sophie.
Karena hujan yang mengguyur sebagian kota sore itu, Sophie yang hendak pamitan pulang mengurungkan niatnya. Lagipula ini hari terakhir bertemu Mas Jo. Sejak awal tadi cerita pun mengalir. Pernah ada momen seperti ini beberapa waktu yang lalu, yang diberi nama Mas Jo ‘sore santai’ yang berisi sesi curhat. Boleh jadi ini ‘sore santai’ keduanya. Sophie tertawa kecil.
“Aku pasti malu kalau suatu saat nanti bertemu denganmu, Mas.” Kekanakan sekali ya, batinnya. Kau tahu apa yang terjadi? Dalam acara ‘sore santai’ itu tanpa sengaja Sophie menyebut-nyebut perkara Lazuardi. Wah, pasti sulit baginya mengorek cerita ini. Tidak ada yang lebih hebat yang bisa mengguncang batinnya daripada hal yang satu ini. Beruntungnya Mas Jo mengerti. Ya katakanlah dia mengerti, minimal dia berkenan menggelar ‘sore santai’ itu jadi lebih hidup.
“Hahaha! Ceritamu itu nanti pasti akan terbawa mimpi sampai seminggu kemudian. Tunggu saja. Lagipula buat apa kau malu? Satu atau dua hari lagi kita tidak akan bertemu.”
Sophie meringis. Dia membayangkan jika suatu saat berkesempatan bertemu Mas Jo lagi.
“Rampungkan novelmu yang sudah ada outline-nya waktu itu. bikin cerita yang bagus. Nanti dikirim ke emailku. Aku siap jadi pembaca pertamanya, jadi kritikus kan enak. Bla … bla … bla….”
Berpuluh nasihat keluar. Sophie mencatat yang dia ingat dalam hati, termasuk nasihat yang satu ini pula.
Merampungkan novel? Ini bisa menjadi ‘obat’ kalau dia mau mengerjakannya. Sebenarnya ia sudah mulai, hanya saja anak yang satu ini tidak konsisten sehingga target yang ditulisnya tak jarang hanya menghiasi buku harian atau memenuhi coretan-coretan di atas kertas saja. Oh, siapa tahu kisahnya yang baru saja digelar dalam sesi curhat ‘sore santai’ bersama Mas Jo barusan bisa memberi inspirasi untuk tulisannya. Ah, siapa pula yang akan membaca? Sophie buru-buru mengusir lintasan pikiran yang mampir di benaknya.
“Aku pulang ya, Mas.” Sore beranjak senja.
“Satu pertanyaan lagi dan kamu bisa pulang.”
Sophie berdiri di ambang pintu. Menunggu pertanyaan terakhir Mas Jo. Ia tidak akan berlama-lama di sana. Sejak Lazuardi mencuat dalam percakapan mereka, hati anak itu sudah bergemuruh dan menjadi tidak karuan. Sophie sadar itu tidak  bisa dibiarkan. Dia harus segera menutup percakapan dan melupakan semuanya.
“Dia sudah lulus?”
Sophie menggeleng.
“Mungkin sudah. Setahuku dia sedang mengerjakan skripsi juga dalam waktu yang hampir bersamaan denganku.”
“Ya sudah, tempat mainnya diganti saja. Nggak usah ke Bromo atau ke Semeru. Siapa tahu nanti bisa bertemu dengannya.”
Sophie tersenyum kecut. Sesuatu yang tidak disadarinya, dua bulir menetes dari kedua ujung matanya. Mas Jo menatapnya heran ~ mungkin juga kasihan.
“Sudah, segera pulang dan istirahat. Nanti juga lupa sendiri. Prediksiku dia akan segera menghubungimu.”
Senyum Sophie semakin kecut. Perasaan campur aduk menyergapnya. Urusan pamitan ternyata bisa jadi panjang. Sepatah dua patah kata yang mau diucapkannya ternyata bisa jadi berpatah-patah. Entahlah, siapa tadi yang memulai hingga percakapan jadi panjang begini.
Di atas Blue ‘n Black miliknya, Sophie mengusap bulir-bulir air mata. Ia menarik nafas sedalam mungkin sebelum akhirnya benar-benar pamit.
“Aku jadi malu kuadrat nih, Mas.” Tolong jangan pernah diingat percakapan sore ini, batinnya memohon.
“Terimakasih Mas Jo, Annyeong!” Blue ‘n Black melesat menembus senja.



Dulu sewaktu kecil, aku selalu berharap jadi adik yang bisa minta ini itu ke kakaknya dan selalu dituruti, tapi kenyataannya aku jadi kakak. Tapi ternyata, Allah memberikan banyak sekali karunia-Nya. Termasuk salah satunya bertemu Mas Jo. O ya, satu lagi, coklat itu enak. Ya enak aja, nggak perlu ada rasionalisasi mengapa harus suka coklat. Analoginya adalah seperti ketika menyukai seseorang, tidak pernah bisa dijelaskan mengapa. Semoga Mas Jo segera menemukannya, dan tidak usah menunggunya bertahun-tahun, karena itu menjemukan dan lebih irasional. Selamat menikmati dan mencerna lezatnya coklat di setiap gigitnya. J

Pipito sayang,
Jika kamu sedih,
Aku bahkan lebih sedih.
Semoga kau segera menemukan partner yang lebih baik.
Sepertinya aku benar-benar akan pulang.





#BERSAMBUNG




19 Juli 2012

Ina


Kukantongi berpuluh nasihat menjelang keberangkatanku ke kampung ini dalam rangka mengabdikan ilmuku sebagai lulusan sarjana pendidikan. Bukan hal yang aneh mengingat aku adalah 'anak tunggal' dari keluarga Bapak. Tentang keluargaku ini sebenarnya adalah aib jika kuceritakan. Ya, singkatnya aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku sudah tak lagi kami ketahui kemana rimbanya. Berpuluh tahun ia ‘terpaksa’ pergi dari rumah ini untuk menjaga nama baik keluarga. Itulah masa-masa kelam keluarga ini. Hingga aku sebagai bungsu dijaga benar-benar oleh Bapak dan Ibu agar 'dosa' itu tak terulang lagi dalam sejarah keluarga kami.
Menjelang senja ini aku duduk-duduk di serambi rumah kontrakan. Tidak seperti sore-sore biasanya yang kuisi dengan mengajar anak-anak mengaji di Masjid Nurul Amal, aku lebih memilih membaca-baca majalah sebelum maghrib datang dan bulan Sya’ban berganti Ramadhan.
Tapi yang kubaca tak juga masuk ke otak. Kepalaku justru sibuk menghitung kapan Ramadhan terakhir aku bertemu dengan Ina, Kakakku yang tak kuketahui rimbanya itu. Tiba-tiba saja terpikir dia setelah membuka rubrik tanya jawab syariah di halaman sepuluh. Si penanya menceritakan kisah kelam masa lalunya dan ingin bertobat. Tapi dia tak yakin jika ia dapat melupakan masa lalunya yang kelam itu. Kisah itu mirip dengan yang dialami Ina.
Ah, membaca kisah itu membuat rinduku buncah dan ingin bertemu Ina. Sebelum kejadian itu, Ina adalah idolaku. Bukan karena aku tidak bersyukur, tapi secara fisik segala yang dia punya tidak aku miliki termasuk kulitnya yang kuning langsat, mata lebar, tahi lalat di lengan kiri dan alisnya yang rembulan nanggal satu. Belum lagi kalau rambut lurusnya digerai. Ina lebih cantik dari bidadari. 
Mungkin saja karena kelebihannya itu, laki-laki pindahan tak tahu diri yang sudah memiliki anak istri yang rumahnya di seberang jembatan itu, memanfaatkan Ina sebagai mainannya. Ina terjebak, tak sadar dosa apa yang dia lakukan hingga suatu hari warga kampung menggerebek mereka berdua di tengah malam. Ina diusir. Laki-laki bejat itu aku tak tahu. Bapak dan Ibu adalah orang yang paling kalap. Aku benci setengah mati. Melihat Ina tak ubahnya seperti Mak Lampir yang rambutnya penuh ulat menjijikkan. Hari itu juga Ina pergi. Tanpa bekal uang, tak ada pakaian kecuali yang menempel di tubuhnya. Orang serumah telah mengharamkan segala sesuatu yang dulu dia miliki untuk disentuh. Dia pergi dengan hati tersayat yang disiram cuka. Tak mengucap sepatah kata.
Mataku basah mengenang Ina. Kami tak pernah mencarinya. Kami tak pernah ingin tahu kabarnya. Bapak menganggap Ina sudah mati.
Kuhentikan membaca kisah itu. Jawaban ustadz di majalah itu membuat keinginanku untuk mencari Ina begitu kuat. Kalau si penanya di majalah itu bisa bertobat, bukankah itu juga bisa dilakukan Ina? Bukankah Ina bisa membuka lembaran baru untuk menyesali apa yang dilakukan pada masa lalu? Tapi harus kemana aku mencari Ina. Dia pergi tanpa membawa apapun dan tak pernah ada kabar apapun. Mungkinkah Ina menghukum dirinya dengan menghuni rumah-rumah bordil dan menjadi wanita penjaja? Ah, aku tidak percaya Ina akan seperti itu.
Mulai detik ini kutancapkan tekad, aku harus menemukan Ina dan membawanya pulang dalam keadaan apapun.
--&--
Menginjak petang, ini malam pertama Ramadhanku di rantau orang. Aku masih beradaptasi dengan cara hidup orang-orang di kampung ini. Selepas maghrib, corong-corong di masjid sudah menyuarakan ayat-ayat suci sekeras mungkin. Anak-anak kecil bersuat-suit janjian akan berangkat tarawih bersama. Ibu-ibu sudah membicarakan menu-menu sahur besok pagi.
Menjelang isya’ masjid Nurul Amal sudah penuh. Hampir tidak ada bedanya dengan malam pertama Ramadhan di kampung halamanku sendiri. Hanya saja, selepas tarawih aku ngos-ngosan karena dua puluh tujuh rakaat dilalui dengan cepat.
Aku kembali teringat Ina. Dulu kalau sehabis tarawih seperti ini, kami biasanya berebut menyalami eyang dan berjanji akan puasa penuh selama satu bulan. Tak lupa menagih jatah paha ayam goreng kami yang dipotong spesial untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Aku selalu bisa mengalahkan Ina. Jatahku selalu lebih banyak karena aku si bungsu yang tak mau kalah.
“Permisi, Mbak. Sandal saya keinjak Mbak, itu. Iya sayang iya, sebentar.”
Aku menyingkir sembari meminta maaf. Rupanya perempuan itu sudah ditarik-tarik anaknya agar segera keluar dari masjid. Aku tak lupa melempar senyum pada si kecil. Anak itu, matanya lebar dan berkulit kuning langsat. Memakai kerudung warna biru muda bermotif bunga. Aku seperti menemukan Ina pada matanya. Tapi belum sempat aku bertanya, si kecil sudah merengek. Ia menarik baju ibunya hingga perempuan itu hampir tersuruk. Aku hanya geleng-geleng kepala. Mungkin saja dulu ulahku dan Ina lebih dari itu jika sudah merengek pada Ibu.
--&--
Terhitung malam ketujuh Ramadhan aku belum juga menemukan cara untuk mencari Ina. Iseng-iseng kucari di internet, tidak ada yang bersangkut paut dengan Ina-ku. Yang ada aku hanya jengkel sendiri karena tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mencari orang yang satu ini. Penyesalan itu tiba-tiba datang, mengapa dulu tak membekali Ina dengan sesuatu yang bisa membawanya kembali ke rumah ini.
Kebuntuanku itu berlalu hingga Ramadhan hampir usai. Aku disibukkan pada kegiatan pesantren Ramadhan anak-anak TPA Nurul Amal. Tak lagi sempat kupikirkan cara mencari Ina. Hanya pada setiap sujud tak lupa aku memohon kepada Allah SWT agar Kakakku baik-baik saja dan aku bisa bertemu dengannya jika dia masih hidup. Aku ingin meminta maaf dan mengajaknya pulang menemui Bapak Ibu.
--&--
Pesantren Ramadhan usai pada H-10 Idul Fitri. Paska kegiatan itu Ustadz Yusuf mengundang ustadz dan ustadzah TPA untuk berbuka puasa di tempat tinggalnya. Meskipun aku baru beberapa bulan mengajar di situ, aku sudah diterima baik oleh warga sekitar. Aku berjanji akan memenuhi undangan ustadz Yusuf.
“Kalau ada waktu silakan datang ke rumah lebih awal, Re. Sepertinya istri saya butuh bantuan.”
Aku mengiyakan saja. Karena tidak mungkin dua orang ustadzah TPA yang lebih senior dariku itu bisa membantu memasak. Mereka berdua sudah sibuk mengurusi keluarga.
Pada sore yang dijanjikan aku mengetuk pintu rumah ustadz Yusuf. Seorang anak kecil bermata bundar menyambutku di depan pintu. Aku ingat ia adalah si kecil yang memakai kerudung warna biru muda bermotif bunga tempo itu. Baru kuketahui kalau si kecil itu adalah bagian dari keluarga ustadz Yusuf. Berarti perempuan yang sandalnya kuinjak itu adalah istri dari ustadz Yusuf?
Si empunya rumah menyusul si kecil ke depan pintu.
“Sayang, Mbak Re disuruh masuk saja. Itu Bunda sudah menunggu di belakang. Masuk Mbak Re!” Ustadz Yusuf berteriak dari tempatnya menyirami bunga.
Selain cantik si kecil itu ternyata cerdas. Dia menyalamiku dan memperkenalkan diri.
“Sophie.” Ucapnya malu-malu.
“Lewat mana, sayang?” Aku menowel pipinya yang lucu.
Sophie berlari kecil dan berteriak memanggil bundanya. Aku membuntuti Sophie ke arah belakang. Ini pertama kalinya aku bertamu ke rumah ustadz Yusuf. Begitu sampai di dapur terdengar gemericik air. Perempuan dengan rambut sebahu mengelap tangannya. Berbalik ke arahku.
Perempuan itu memiliki mata bundar seperti Sophie. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya lurus sebahu. Dan satu-satunya yang membuatku terbelalak adalah tahi lalat di lengan kirinya. Aku tidak asing dengan makhluk yang satu ini.*** 

22 Juni 2012

Selembar Sarung vs Udin

Sebenarnya mau ikut lomba FTS Narsis Unlimited : Narsis Anti Galau Bikin Hidup Happy Tanpa Ending-nya WR. Mau menguji seberapa narsis diriku ini kalau dalam tulisan. Makanya latihan sedikit demi sedikit. Masalahnya ternyata tidak semudah itu. Meskipun narsis dalam kehidupan sehari-hari adalah perkara gampang, tapi kalau dituliskan bukan lagi perkara mudah *bagiku*. Apalagi menulis cerita yang ngocol abis. Takutnya malah terkesan mekso. Bukannya pembaca terpingkal-pingkal atau terhibur, tapi malah bikin mereka emoh karena ceritanya hancur lebur.  Tapi nggak boleh putus asa dong! Seberapa susah dan jeleknya ceritaku, harus tetap kucoba. Nah, salah satu dari proses latihan itu adalah cerita ini. Entahlah masuk dalam kategori apa. Penilaian diserahkan pada selera Anda. Selamat membaca!


Selembar Sarung vs Udin
Udin adalah seorang pemuda sederhana yang berpenampilan apa adanya. Cakep sih enggak. Paling cuma Emaknya aja yang bilang dia cakep. Selebihnya, orang bilang Udin cakep kalau ada perlunya aja. Tapi entah kenapa orang desa pada ngepens berat sama makhluk yang satu ini. Mungkin karena bakatnya yang ringan tangan. Jadi kalau ada angin berhembus, tangannya bakal melayang kemana aja. Hehehe, ya enggaklah. Dia memang anak baik hati, suka menolong dan tidak sombong.
            Karena saking apa adanya, Udin suka pakai sarung kemanapun dia pergi. Baginya selain prinsip apa adanya, sarung adalah pakaian ter-fleksibel yang dia punya. Nggak ada handuk, ia bisa handukan pakai sarung. Kalau tidur nggak ada selimut, sarung bisa dipakai buat selimutan. Ya peribahasanya tiada rotan Raam Punjabi, eh sarung pun jadi. Masa rotan dipake buat handukan. Atau kalau pengen ngintip siapa aja yang bisa diintip, sarung bisa dipakai biar jadi ninja. Pokoknya sarung adalah benda multitalent, eh multiguna.
            Sebenarnya bukan hanya Udin seorang yang suka dengan benda yang satu ini. Anak-anak, orang muda, orang tua, sampai orang-orangan sawah, sarung adalah benda favorit. Mereka mengenakan sarung kemanapun pergi. Bahkan tetangga Udin yang bernama Edi alias Junaedi, maunya juga pakai saruuuung terus. Dia nyuruh emaknya untuk memodifikasi sarung made in Indonesia itu menjadi sebuah seragam sekolah yang oke punya. Tetangga Udin lain yang PNS (Pak Nono Soemardi) kalau ke kantor juga berseragam dari bahan sarung. Pokoknya semua warga di kampung Udin jadi maniak sarung. Panas, hujan, berawan, gerimis, kemanapun dan kapanpun, tiada hembusan nafas tanpa sarung.
--&--
            Di suatu pagi yang indah. Karena matahari muncul tiba-tiba sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, Udin yang melihat adegan itu gantian mengedipkan matanya. Hari ini ia bangun pagi dengan semangat dua ribu dua belas. (Jaman sekarang udah nggak jamannya lagi semangat empat lima. Abadnya aja udah abad dua satu).
            Setelah melipat rapi sarungnya yang habis disetrika dengan pewangi yang super wangi karena pakai pandan wangi. Tiba-tiba …. Hatshiii‼ Udin memang kadang suka nyeleneh. Ini bakatnya yang lain yang sesekali meresahkan emaknya, karena pandan wangi di belakang rumah gusis dipreteli Udin buat pewangi sarung.
            Tiba-tiba …  
            “Din! Ikut saya ke kantor desa!” Pak RT di lingkungan rumah Udin tiba-tiba nyelonong di depan Udin yang sedang ngambet sarungnya. Secara refleks Udin mengedipkan sebelah matanya kepada Pak RT.
            “Apa-apaan pakai kedip-kedipan mata. Nggak usah ngerayu! Ini urusan super penting. Jadi tidak usah bertele-tele.”
            Udin masih kaget setengah hidup. Matanya yang sebelah gentian berkedip. Kalau tadi yang kiri sekarang yang sebelah kanan.
Karena nggak mau bertele-tele, pak erte menyeret Udin begitu saja ke kantor desa. Dia tidak mempedulikan Udin yang meronta. Di sana semua warga sudah menunggu. Mereka memandang gemas ke arah Udin.
“Malingnya sudah saya bawa, Sodara-sodara. Berikut barang buktinya. Mari kita adili dengan seadil-adilnya.”
“Adili!”
“Yang adil.”
“Pengadilan.”
“T-tunggu. Ada apa ini? Saya bukan maling. Saya kesini bukan untuk diadili, tapi diseret dengan paksa oleh Pak RT.”
“Maling sarung, ayo ngaku kamu! Itu kan buktinya kamu bawa sarung.”
“Ini sarung saya sendiri!”
“Pokoknya Hajar! Biar kapok!”
Bag! Big! Bug! Tulang Udin remuk. Warga girang karena sudah membuat pengadilan dan mengadili maling sarung dengan seadil-adilnya. Tiba-tiba Jupri yang kehilangan sarung muncul di kantor desa sambil terbahak-bahak.
“Tuh, Pri. Malingnya sudah ketemu. Sudah kami balas setimpal dengan perbuatannya. Enaknya kita apakan lagi?”
“Hah? Siapa Pak RT? Udin? Ya ampun. J-jadi….”
Jupri mendekati Udin. Anak itu meringis karena ujung bibirnya sobek. Bajunya rowak-rawek. Celananya sobek, resletingnya ucul. Tinggal tersisa kaos singlet dan celana dalam di tubuh Udin.  
“Ngapain kamu di sini Din?”
Jupri tak habis pikir. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa makhluk yang satu ini di balai desa dengan tubuh babak belur. Tiba-tiba Jupri mengeluarkan sesuatu dari kresek hitam. “Lha iki Pak, sarungku ketemu. Kemarin tak jemur di belakang rumah njur kanginan, temangsang di tiang jembatan .”
“Ooo, semprul! Tiwas raiku ajur mumur!” Udin ndongkol nggak karuan. Mumpung orang-orang masih terfokus ke arah Jupri, ia berhitung. Satu…dua…ti…ga, kabuuuurr‼‼‼
“Hei Din, Udin Jamaludin! Udiiin‼‼!” Pak RT dan warga memanggilnya teriak-teriak.
“Saya bukan maliiiing!” Udin ngos-ngosan. Ia emoh diadili kedua kalinya.
“Bukan, Diiiin! Kamu mau kemana? Clonomu rung mbok nggo!”
Ha??‼ Udin terbelalak. Dan… BRUKK‼ Udin (pura-pura) semaput.***

Pacitan, Mei 2012

23 Desember 2011

Telaga Biru


*Tulisan ini pernah diikutkan dalam lomba foto fiksi Leutika (tidak lolos)
Akhir Oktober 2011        



Telaga Biru

Aku telah jatuh hati pada aroma yang dibawa angin gunung ke telaga ini. Menghirupnya lama-lama membuatku seolah terbang ke alam lain yang mengerti apa mauku. Apakah ini surga? Ah, tentu tak semudah itu tiba-tiba aku ada di surga bukan? Ini masih di bumi, di tepi telaga biru tempat aku menjejakkan kaki menunggu kepulanganmu. 

--&--
Oktober 2010

                Kita kembali bertemu di sini. Memanjakan diri dalam rengkuhan angin sore di tepi telaga biru. Aku duduk tak jauh di sebelahmu. Memainkan dedaunan rumput yang tumbuh liar. Ini tahun kedua sejak kau kembali merapat ke kampung ini. Bercengkerama dengan batang-batang pohon di tengah rimba di sebelah telaga itu. Kau bilang itu bagian dari hidupmu.

Aku melihat rautmu mendadak berubah sendu, seiring was-was yang tiba-tiba menyergapku. Kau bilang harus meninggalkan rimba ini beserta seluruh penghuninya untuk sementara waktu. Kau bilang akan kembali lagi setelah menyelesaikan penelitianmu tentang spesies rimba di belahan bumi di luar sana. Aku mengangguk saja. Dan tetap menguarkan aura kebahagiaan untuk menutupi kegalauanku.

                “Gadis, aku minta kau menungguku. Aku punya sesuatu yang spesial untukmu di hari itu. Sebelas, sebelas, dua ribu sebelas.”

                Aku tersenyum tanpa jemu meskipun khawatir kalau-kalau kita tak bisa lagi menikmati angin di telaga biru ini bersamaan. 
--&--

Awal November 2011   
 
Sepuluh hari menuju hari itu. Ini adalah hari ketiga ratus enam puluh lima dalam hitungan kalenderku. Lingkaran merah-merah itu sudah tak punya tempat lagi kecuali aku membeli kalender baru untuk tahun yang akan datang. Tapi aku belum mau menggantinya. Biar lingkaran-lingkaran itu tak berpindah dari tempatnya dan aku tidak perlu melingkari banyak angka.

11 November 2011

                Aku berangkat, menyusuri jalan setapak ke telaga biru. Membawa setumpuk harapan dan rasa penasaran akan sesuatu yang spesial.

                Kuambil baju hangat. Lalu setengah berlari mencapai tepi telaga. Aku menyepi di salah satu sudutnya. Matahari tidak terlalu terik di bulan November. Apa karena masih pagi? Oh ya, tetesan embun di pucuk-pucuk rerumputan itu belum menguap. Benar, berarti ini belum terlalu siang.

                Masih berapa menit lagikah menuju jam sebelas? Aku menyesal meninggalkan jam tangan coklat di ruangan pribadiku. Seharusnya tadi kubawa agar bisa menghitung menit demi menit yang berjalan. Tapi sudahlah, kalau pun sudah jam sebelas pasti kau akan datang bukan? Aku percaya padamu. Demi melihat embun di pucuk rerumputan itu hatiku tak jadi galau.

                Sepasang mata menatapku dari jauh. Seorang bapak-bapak tua pencari kayu bakar. Ia melihatku seolah hendak bertanya. Apakah ada yang aneh denganku Pak Tua? Aku melempar senyum. Bapak itu lantas membalas senyum. Aku tak mengindahkannya lagi saat beliau melanjutkan pekerjaannya.

                Oh waktu, aku semakin penasaran saja. Jam berapakah sekarang ini? Kenapa matahari diam saja di situ tanpa mau memberitahuku? Kenapa titik embun itu pergi tanpa pamit padaku? Oh, harusnya tadi embun memberitahu dulu sebelum berlalu. Pada siapa aku akan bertanya tentang waktu? Sedangkan air di telaga itu diam seolah tak terusik dengan kehadiranku.

                Pak Tua yang tadi melambai padaku. Apakah dia juga akan berlalu?

                “Waktunya makan siang. Kalau berkenan silakan mampir di gubukku.” Dia menunjuk ke arah timur. Di mana matahari sudah meninggalkannya condong ke barat. Aku mengangguk sendu.

                Bisakah sekarang kuperkirakan duhai kau waktu? Telaga biru itu masih membisu. Angin kembali berhembus, mengusir sedikit khawatir dalam hatiku.
--&--
                Matahari berlalu. Lihatlah ia telah membunuh siang. Aku beranjak meninggalkan tempat dudukku di sela-sela rerumputan. Lihat, ada jejak kaki! Aku melepas pandang ke tengah telaga. Menelisik jawaban dari sunyinya tempat itu.

                “Hei telaga, jejak kaki siapa yang membekas di tepimu itu? Bukankah Pak Tua tadi tidak memakai alas kaki?”

                Aku menatap curiga ke telaga. Seseorang pasti telah kemari. Meninggalkan jejak kaki yang belum terhapus.      

                “Gadis,” katanya. “Maaf aku baru memberitahumu. Laki-laki bertopi itu sudah kembali. kemarin dia mengunjungiku. Berjalanlah terus ke arah sana, ada pita biru yang dia sematkan pada pohon mahoni.”

                Apa, jadi dia sudah ke sini lebih dulu? Oh, tidak mungkin dia salah dalam menghitung tanggal. Aku seratus persen yakin kalau ini tanggal sebelas! Yakin!

                Kudekati pohon mahoni yang ditempeli pita biru. Sedikit demi sedikit kukeluarkan gulungan kertas dalam sebuah amplop putih.

                Aku tidak dapat menyalahkan penglihatanku. Amplop itu berisi kertas bertuliskan beberapa kalimat dan selembar foto yang sudah usang, oh gambarnya kukira dibuat agak blur. Tak ada yang lain.

                GADISKU YANG CANTIK,
                PASTI KAU MENUNGGU HARI SPESIAL ITU. AKU TAHU KAU AKAN DATANG. MAAFKAN AKU TAK SEMPAT BERTEMU. TAPI AKU TAK AKAN INGKAR JANJI. KAU BISA LIHAT DI FOTO ITU KAN? AKU MENEMUKAN ANAK LAKI-LAKIMU DI RUMAH TUA PINGGIR HUTAN DI DEKAT TEMPAT PENGABDIANKU. YA, AKU TAHU MASA LALUMU. MAAF. TAPI KAU JANGAN BERSEDIH, AKU AKAN TETAP MEMANGGILMU GADIS.
                SALAM HANGAT DARIKU.

                 Aku pandangi lekat-lekat kertas dan foto itu. Sedikit demi sedikit bayangan yang tertangkap retinaku mulai kabur. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya.***