Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan

18 April 2013

Saatnya bongkar-bongkar

Begitu ditinggal sesama penghuni kamar 1 karena lulus dan akan menetap di kotanya, sekarang saya jadi sendirian. Nah, Saatnya bongkar-bongkar. Setumpuk barang-barang yang saya kumpulkan sejak semester satu saya pilah-pilah. Ya ampun, berkas-berkas pendaftaran awal pertama kuliah dulu masih ada. Jadwal registrasi dan segala macamnya. Leaflet UKM-UKM yang lagi promosi pas penerimaan mahasiswa baru juga masih saya simpan. Dari leaflet yang saya terima pas jadi maru, hingga leaflet yang saya bagikan pas sudah jadi mahasiswa senior. Juga berkas-berkas lain. Ya ampun, ternyata berkardus-kardus yang saya tumpuk itu, kertas-kertas yang penuh kenangan. 

Buang nggak ya?

Saya kembali memilah, memilih. Mana yang layak saya simpan, mana yang saya buang, dan mana yang harus saya bakar. Dibakar? Iya, file-file yang … ya, cukup saya sendirilah yang tahu, saya bakar saja. Semua file itu tidak mungkin saya bawa kalau nanti saya harus meninggalkan kota ini.

Dan, inilah yang suka membuat saya lama kalau sedang bongkar-bongkar semacam ini. (bakar-bakar, baca-baca, sobek menyobek, dan jeprat-jepret).

Mengapa jeprat-jepret?

Iseng saja sebenarnya. Mumpung ada momen bongkar-bongkar. Kalau nggak pas niat mbongkar gini kan takutnya nanti males merapikan kembali.
Ada beberapa file yang saya foto. Salah satunya adalah tulisan ini.



Saya terharu membaca tulisan ini. Sungguh. Percaya nggak kalau saya benar-benar meneteskan air mata? (Saya paling nggak tahan menahan tangis. Entah itu di depan umum, di depan siapa saja, di acara apa saja, kalau pengen nangis ya, aduuh …. Bukan mau obral air mata. Tapi pengennya ya nangis aja, nggak seneng nggak sedih. Nangis deh pokoknya).

Tulisan di foto itu, menutup kisah perjalanan saya dengan senior saya angkatan 2004-2005 di Al-Banna. Macam-macam pesan dan kesan yang saya dapat waktu itu. Tapi untuk kesempatan ini saya tidak mau ‘tidak berani’ mempublish-nya. Soalnya ada juga sih yang pedih mengiris-iris. Ada juga yang saya tidak merasa seperti itu tapi ditulisnya begitu. Cukuplah itu menjadi kenangan ‘teguran’ buat saya, agar saya selalu evaluasi diri. Oh iya, saya baru ingat kenapa saya masih menyimpan tulisan-tulisan itu. Itulah manfaatnya.

Kembali ke saat bongkar-bongkar.
Akhirnya, kamar saya sekarang lumayan rapi. Ya, lebih mendinglah daripada sebelumnya. Barang-barang saya juga sudah rapi. Bersiap kalau suatu saat harus makcling! pergi dari kota ini tiba-tiba. Hahaha! Kita tunggu saja! 

17 April 2013

OPTIMIS (1)


“Wah, berarti aku harus menyiapkan ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah nih Mbak kalau akhirnya aku diterima.”
Ih, jauh banget mikirnya sampai ke situ. Padahal dibuka saja belum, bagaimana mungkin diterima. Apalagi sampai bersiap ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah segala, sungguh amat-amat kepanjangan mikirnya.
“Cie, yang akhirnya pulang kampung. Kalau ‘jodoh’mu pasti nggak akan kemana kok, Cin. Siapa tahu juga, kamu bakalan ketemu dia. Wah, akhirnya cinta lama kesampaian juga. Hihihi!” Yang ini bukan lagi kepanjangan mikirnya, tapi juga keterlaluan. Jadilah korban timpuk saya teman yang satu itu.

-@@-

Perpisahan heboh dengan salah satu penghuni kos itu ditambah pula kabar gembira bahwa saya bisa memenuhi kualifikasi SDM yang dibutuhkan Dinsos untuk menjadi pendamping salah satu program sosial. Bisa dibayangkan bukan betapa kami amat sangat gempita pada hari itu. Atmosfir bahagia menyelubungi percakapan kami. Apalagi saat itu, teman kami yang baru saja skripsinya di-acc, kurang lebih satu minggu lagi akan sidang. Wah, tema perpisahan diisi dengan harapan-harapan masa depan yang lebih baik. Sharing tentang impian masing-masing yang digantung setinggi langit. Semangat empat lima!
Termasuk saya yang juga menyala-nyala. Bukan karena kalimat teman saya yang sudah kena timpuk baru saja, tapi ada sebongkah perasaan yang membuncah, sebuah harapan yang berpendar. Ada rasa penasaran, benarkah plan saya yang ini yang akan saya jalani? Benarkah akhirnya Allah meridhoi saya untuk mengambil skenario yang ini? (Ada sekian planning yang sudah saya tuliskan, termasuk meninggalkan kota studi ini dengan segala kenangannya, yang kata teman saya yang lebih dulu pergi akan terasa berat karena di kota inilah kehidupan kami ditempa sambil merajut cita-cita). Saya akan tahu jawabannya kemudian.

14 April 2013

Sahabat Paling Krik! Sepanjang Masa


Sebelumnya saya mau mengenalkan teman saya, Heart. Saya mengenalnya pada acara kerohanian sekolah, dulu sewaktu masih jaman berseragam putih abu-abu. Lalu pertemanan kami berlanjut karena ternyata dia satu jurusan dengan saya. Sejak itu kami tak terpisahkan. Bertengkar, baikan, perang dingin, gencatan senjata, pisah kamar, baikan lagi. Mulai dari awal siklus, bertengkar, gencatan senjata dan seterusnya.

Dua tahun sebangku. Di akhir tahun dia memutuskan untuk indekost, dan berbagi kamar pula dengan saya. Ya, kalau ada orang yang ingin tahu saya seperti apa, Heart mungkin bisa menjadi salah satu orang yang layak menjadi rujukan selain Emak dan Babe saya. Hehe. 

Lima tahun yang lalu Heart memilih melanjutkan studi di kota kelahiran kami. Empat tahun dia lulus, kuliah yang normal. Sedangkan saya, ohoo … menyusul satu setengah tahun kemudian. Lalu satu setengah tahun yang lalu, tepat beberapa hari sebelum wisuda, dia menikah. Kurang lebih empat bulan yang lalu dia melahirkan anak perempuan cantik yang saya panggil Zizi (dia lebih suka memangggil anaknya sendiri dengan panggilan nggak gaul ala saya). Dan karena ponakan kecil saya itu, Heart memanggil saya Tante sekarang.

Kalau melihat kisahnya, dalam hal ini dia lebih progress dibanding saya kan? Ya itulah awal cerita ini.

Heart dan saya masih berteman sampai sekarang. Saya yang mengunjunginya karena saya lebih bebas dibanding dia. Kami masih sering berbincang-bincang via telepon, via sms, dan sebagainya. Obrolan ringan sampai yang berat, dan curhat tentu saja. Dia yang bahagia banget dengan putri kecilnya dan saya yang heboh banget dengan cerita-cerita lainnya. Ck!, kadang nggak penting juga.

Seperti pada sore itu. Baru berselang beberapa hari lalu kami ngobrol via sms. Maka ketika dia mengirim pertanyaan basa-basi, “Lagi apa Tante?”, saya balas singkat “Ngemil” (baru dapat cemilan gratis dari Mbak Yang Baik Hati).

Heart : Makan Tante, jangan ngemil terus.

Saya : Udah kok, Bu. Tenang aja. Btw, makasih ya udah care banget sama aku. Dari kemarin sms terus. (maksudku jam segitu apa dia nggak ribet ngurusin Zizi yang doyan makan ‘minum ASI’)

Heart : Lha mau sms siapa? Sms pacar juga udah diadep. Hahaha!

Saya : (krik!) :p

Heart : Kapan pulang?

Saya : Minggu depan mungkin. Ada apakah?

Heart : (mungkin mikirnya saya lama nggak pulang) Ini bocah kok betah banget sih di situ, bukannya udah lulus?!

Saya : Nungguin suami (sengaja membuat atmosfer makin krik!).

Heart : Jangan cuma teori dong! Buktikan! Oke, asal nunggunya jangan sampai enam bulan.

Saya : (krik! pangkat sepuluh)
….

Heart memang bukan kali pertama itu care dengan saya. Bahkan dalam setiap obrolan kami, kalimat yang makin krik! itu selalu dia singgung-singgung. Dari yang krik! pangkat satu hingga krik! pangkat sekian. Krik! pangkat sekian itu kadang-kadang terasa pedas juga. (Tahu nggak kalau sewaktu nulis kalimat ini saya ingin mengganti nama dia menjadi Heartkrik. Saya rasa lebih cantik. Qiqiqi!).

Bagi saya sih, biar makin krik! aja, dia tetap sahabat saya. Saya suka dia tetap care dengan sahabatnya. Saya bahagia dia bahagia. Bahkan saya berharap, persahabatan saya dengan Heartkrik, eh Heart maksudnya, tetap baik-baik saja sampai kakek nenek,  bahkan sampai di surga nanti (aamiin, insyaallah).

Baiklah, bersamaan dengan postingan tulisan ini, saya dengan hati yang sangat bahagia menganugerahkan pada sahabat saya yang satu ini predikat “Sahabat Paling Krik! Sepanjang Masa”. Semoga dia tak kalah bahagia menerimanya. Pada kesempatan yang lain, kalau saya sedang berbaik hati, saya akan memberikan gelar yang keren lagi untuk sahabat-sahabat saya yang lain.

22 Maret 2013

. . . . (2)


“Apa aku saja yang ngomong?”
“Tidak. Jangan, Mas. Aku takut tentu saja.”
“Wajarlah. Justru kalau kamu yang berani, dia yang takut.”
Sophie mengutak-atik kunci motornya. Tidak ada yang tidak beres. Kunci motor, helm, meja kursi di depannya semua baik-baik saja. Justru dia yang sedang tidak beres dan mengundang tatapan kasihan dari Mas Jo. Sudah terlanjur, pikir Sophie.
Karena hujan yang mengguyur sebagian kota sore itu, Sophie yang hendak pamitan pulang mengurungkan niatnya. Lagipula ini hari terakhir bertemu Mas Jo. Sejak awal tadi cerita pun mengalir. Pernah ada momen seperti ini beberapa waktu yang lalu, yang diberi nama Mas Jo ‘sore santai’ yang berisi sesi curhat. Boleh jadi ini ‘sore santai’ keduanya. Sophie tertawa kecil.
“Aku pasti malu kalau suatu saat nanti bertemu denganmu, Mas.” Kekanakan sekali ya, batinnya. Kau tahu apa yang terjadi? Dalam acara ‘sore santai’ itu tanpa sengaja Sophie menyebut-nyebut perkara Lazuardi. Wah, pasti sulit baginya mengorek cerita ini. Tidak ada yang lebih hebat yang bisa mengguncang batinnya daripada hal yang satu ini. Beruntungnya Mas Jo mengerti. Ya katakanlah dia mengerti, minimal dia berkenan menggelar ‘sore santai’ itu jadi lebih hidup.
“Hahaha! Ceritamu itu nanti pasti akan terbawa mimpi sampai seminggu kemudian. Tunggu saja. Lagipula buat apa kau malu? Satu atau dua hari lagi kita tidak akan bertemu.”
Sophie meringis. Dia membayangkan jika suatu saat berkesempatan bertemu Mas Jo lagi.
“Rampungkan novelmu yang sudah ada outline-nya waktu itu. bikin cerita yang bagus. Nanti dikirim ke emailku. Aku siap jadi pembaca pertamanya, jadi kritikus kan enak. Bla … bla … bla….”
Berpuluh nasihat keluar. Sophie mencatat yang dia ingat dalam hati, termasuk nasihat yang satu ini pula.
Merampungkan novel? Ini bisa menjadi ‘obat’ kalau dia mau mengerjakannya. Sebenarnya ia sudah mulai, hanya saja anak yang satu ini tidak konsisten sehingga target yang ditulisnya tak jarang hanya menghiasi buku harian atau memenuhi coretan-coretan di atas kertas saja. Oh, siapa tahu kisahnya yang baru saja digelar dalam sesi curhat ‘sore santai’ bersama Mas Jo barusan bisa memberi inspirasi untuk tulisannya. Ah, siapa pula yang akan membaca? Sophie buru-buru mengusir lintasan pikiran yang mampir di benaknya.
“Aku pulang ya, Mas.” Sore beranjak senja.
“Satu pertanyaan lagi dan kamu bisa pulang.”
Sophie berdiri di ambang pintu. Menunggu pertanyaan terakhir Mas Jo. Ia tidak akan berlama-lama di sana. Sejak Lazuardi mencuat dalam percakapan mereka, hati anak itu sudah bergemuruh dan menjadi tidak karuan. Sophie sadar itu tidak  bisa dibiarkan. Dia harus segera menutup percakapan dan melupakan semuanya.
“Dia sudah lulus?”
Sophie menggeleng.
“Mungkin sudah. Setahuku dia sedang mengerjakan skripsi juga dalam waktu yang hampir bersamaan denganku.”
“Ya sudah, tempat mainnya diganti saja. Nggak usah ke Bromo atau ke Semeru. Siapa tahu nanti bisa bertemu dengannya.”
Sophie tersenyum kecut. Sesuatu yang tidak disadarinya, dua bulir menetes dari kedua ujung matanya. Mas Jo menatapnya heran ~ mungkin juga kasihan.
“Sudah, segera pulang dan istirahat. Nanti juga lupa sendiri. Prediksiku dia akan segera menghubungimu.”
Senyum Sophie semakin kecut. Perasaan campur aduk menyergapnya. Urusan pamitan ternyata bisa jadi panjang. Sepatah dua patah kata yang mau diucapkannya ternyata bisa jadi berpatah-patah. Entahlah, siapa tadi yang memulai hingga percakapan jadi panjang begini.
Di atas Blue ‘n Black miliknya, Sophie mengusap bulir-bulir air mata. Ia menarik nafas sedalam mungkin sebelum akhirnya benar-benar pamit.
“Aku jadi malu kuadrat nih, Mas.” Tolong jangan pernah diingat percakapan sore ini, batinnya memohon.
“Terimakasih Mas Jo, Annyeong!” Blue ‘n Black melesat menembus senja.



Dulu sewaktu kecil, aku selalu berharap jadi adik yang bisa minta ini itu ke kakaknya dan selalu dituruti, tapi kenyataannya aku jadi kakak. Tapi ternyata, Allah memberikan banyak sekali karunia-Nya. Termasuk salah satunya bertemu Mas Jo. O ya, satu lagi, coklat itu enak. Ya enak aja, nggak perlu ada rasionalisasi mengapa harus suka coklat. Analoginya adalah seperti ketika menyukai seseorang, tidak pernah bisa dijelaskan mengapa. Semoga Mas Jo segera menemukannya, dan tidak usah menunggunya bertahun-tahun, karena itu menjemukan dan lebih irasional. Selamat menikmati dan mencerna lezatnya coklat di setiap gigitnya. J

Pipito sayang,
Jika kamu sedih,
Aku bahkan lebih sedih.
Semoga kau segera menemukan partner yang lebih baik.
Sepertinya aku benar-benar akan pulang.





#BERSAMBUNG




20 Maret 2013

. . . . (1)


Sophie bergegas. Sebelum jam empat ia sudah harus berada di rental komputer dan menemui dua orang, seharusnya tiga, dan mengucapkan sepatah dua patah kata perpisahan untuk mereka. Tapi sebelumnya ia harus mencari sesuatu yang bisa mencairkan suasana. Yang terpikir di kepalanya saat itu adalah makanan. Yup! Sepertinya makanan adalah pilihan yang tepat karena kemarin selepas dia wisuda belum sempat menraktir siapapun makan-makan termasuk mereka berdua. Dan makanan yang tepat untuk dia bawa sore ini adalah martabak manis dengan coklat dan kacang. Pasti membuat lidah menari-nari. Sophie juga tahu sekali kalau Pipito suka sekali dengan coklat.
“Aku titip barang-barang di sini, Kak. Nanti maghrib aku kembali.” Teriaknya pada seniornya penjaga toko aksesoris. Tadi Sophie diminta menjaga toko sebentar karena ditinggal sholat. Sekali lagi Ia harus bergegas meskipun harus menembus gerimis yang semakin deras. Tidak apalah cuma gerimis, ia akan langsung ke gerobak penjual martabak dan lari ke rental komputer.
Sayangnya dua kali ditengok, gerobak penjual martabak kosong. Tidak ada aroma martabak yang menguar menggodanya seperti hari-hari biasa. Entahlah, mungkin karena akhir pekan. Sophie juga tak hafal jadwal jualan penjual martabak di gerbang belakang kampus itu. Gerimis pun semakin bertubi-tubi. Sedang ia belum memutuskan untuk membeli apa untuk mencairkan suasana. 
Ide itu melintas tiba-tiba. Pipito penyuka coklat, Mas Jo pun kelihatan penasaran dengan coklat. Jadi rasanya tak mengapa jika Sophie membelikan mereka berdua coklat. Yup! Coklat makanan yang sempurna! Sophie menembus gerimis menuju swalayan terdekat. Ia ambil dua bungkus coklat dan bergegas lagi melarikan Blue ‘n Black di bawah gerimis. Jumper-nya sedikit basah di lengan bagian atas.
Seperti biasa, tidak akan pernah ada yang menyambutnya begitu meriah di rental. Mungkin itu akan terjadi entah kapan kalau ada sesuatu yang heboh. Seperti misalnya Mas Jo membawa istrinya ikut serta atau tiba-tiba Pipito datang bergandengan tangan dengan **in. Tapi itu entah kapan. Sesuatu yang tidak bisa diperkirakan dan mungkin juga tidak akan terjadi. Yang jelas-jelas terjadi adalah basa-basi sedikit dan selebihnya kembali pada dunia masing-masing. Ditambah celetukan kecil kadang-kadang. Hingga Pipito memutar video sebuah reality show dari negeri ginseng yang membuat Pipito dan Sophie terkikik-kikik kecil melihat aksi kocak para bintangnya.
“Orang lari-lari kok dilihat.” Pastilah ini komentar Mas Jo yang sungguh amat sangat tidak suka sekali atau mungkin sebaliknya sebenarnya sungguh amat sangat penasaran sekali dengan tayangan yang satu ini. Abaikan! Pipito dan Sophie tetap asyik. Adzan pun bergema. Tidak ada yang luar biasa hingga Pipito pamit pulang karena jam kerja hari itu sesungguhnya hanya sampai jam empat sore.
“Kamu jangan pulang dulu, Say. Aku kesini mau pamitan. Beneran aku mau pamitan. Mungkin lama kita nggak akan bertemu. Aku minta maaf ya kalau ada salah.”
          “Sudah sore, Mbak. Aku keburu pulang.”
          Ya, Sophie tahu ini waktunya Pipito mudik. Dan anak yang satu ini tak punya punya kosakata ‘basa-basi’.  
          Sophie yang sebelumnya mengusahakan membungkus coklat dengan kertas kado yang dibuat cantik, akhirnya hanya menemukan bekas pembungkus kertas HVS yang dipotong jadi dua bagian. Dan karena tidak menemukan selotip di meja yang berantakan, dia memutuskan untuk membungkus coklat itu apa adanya. Di-klip pada ujung-ujungnya.
          “Silakan pilih salah satu, Pipito. Kamu kuberi kesempatan untuk memilihnya terlebih dahulu. Mas Jo biar saja dapat sisanya.”
          Pipito berpikir sejenak, “aku yang kecil saja.”
          “Baiklah, ini untukmu. Maaf ya kalau aku punya salah.”
          “Kamu tuh sebenarnya tega banget, Mbak. Kenapa perginya cepat sekali. Kenapa tidak menunggu sampai akhir bulan ini?”
          Sophie tidak bisa menjawabnya. Dia punya jawaban, tapi tidak tega untuk menyampaikan apa yang sebenarnya. Sekali dia bicara, dia sendiri yang akan terluka. Dia sebenarnya yang keberatan meninggalkan semuanya. Oleh karena itu dia hanya tersenyum dengan bibir seolah tertahan untuk bicara.
          “Seharusnya kamu pergi itu pamit dan disetujui oleh semua yang ada di sini. Oleh Bos, olehku, oleh Mas Jo, bahkan oleh Bu Bos. Aku tidak rela kamu pergi sekarang.”
          “Selesaikan hingga akhir bulan.” Kata Mas Jo.
          “Aku harus pergi. Sudahlah, aku mau pulang. Kau dengar Pipito, aku mau pulang selama beberapa waktu dan tidak bisa di sini.” Hanya itu yang akhirnya keluar. Tidak ada kalimat yang bisa ia sampaikan untuk mereka.
          Pipito akhirnya pulang.
          “Ini untuk Mas Jo. Diambil ya, Mas.”
          “Apaan sih?”
          “Mau dibuka sekarang? Silakan, itu sudah jadi milik Mas Jo.”
          Menarik. Mas Jo beranjak ke meja di mana bungkusan itu berada. Sophie yang tadi sudah menyampaikan kalimat pamitan beranjak ke arah pintu. Namun dia duduk di salah satu kursi di dekat pintu mendengar kalimat Mas Jo.
          “Kenapa dibungkus seperti tempe? Jangan-jangan isinya coklat?”
          Sophie dalam hati tertawa sekaligus sedikit protes, karyanya disederajatkan dengan membungkus tempe. Bukalah dan kau akan tahu, katanya dalam hati lagi. Beberapa detik kemudian Mas Jo tertawa melihat isi dalam bungkusan yang sesuai dengan tebakannya. Di luar hujan mulai deras. Sophie yang sudah bersiap hendak pulang akhirnya tetap duduk di kursinya.




#bersambung

10 Desember 2012

where are you going?


Usut punya usut, satu bulan kemarin saya tidak menulis apapun. Tengoklah postingan saya di blog ini bulan November kemarin, maka tidak ada satu coretanpun yang  berhasil nangkring di blog acak-acakan saya. Lantas, kemana saya pergi? Nowhere, but here. Terus ngapain aja? Nah, ini! Tidak bisa saya deskripsikan satu persatu alasan saya yang vakum dari corat-coret. Wehehe, sok penting banget deh! Siapa juga yang peduli saya nulis atau enggak. Siapa juga yang mau nggagas saya ngeksis apa enggak. Lagipula saya juga nggak mau digagas. Nulis atau enggak, itu kepentingan saya.

Well, jujur saya tidak memulai tulisan ini dengan ide tertentu. Meskipun sempat terlintas untuk menceritakan munculnya ide ‘kekasih bidadari’, tapi setelah saya pikir sekali lagi, rasanya tak begitu penting.

Menulis aktivitas saya … Aktivitas saya belakangan ini juga rasanya tak begitu layak untuk di-publish. Yea! Akhirnya jadilah tulisan nggrambyang ini keposting juga. Nah, setelah baca pasti baru ngeh dengan judulnya.

Baiklah, saya sedang tidak punya hati untuk melakukan sesuatu. Hati saya pergi entah kemana saat mengirim pesan tak berbalas padahal saya sangat menantikan balasan pesan itu saking pentingnya. Di kepala saya malah ada slide demi slide yang membuat saya ingin ngamuk. Grzzz‼! Saya ingin makan or**ng! Hufhthhh … ‼ 

L

Ya sudahlah, semoga ada hari baru yang lebih baik.  

Happy blogwalking‼‼

9 Oktober 2012

Tidak Menyapamu Sampai Batas Waktu Yang Tidak Ditentukan


Saya sedang banyak ide malam ini. Sampai-sampai belum berganti berkostum saya lakoni. Haha … tidak apa-apa. Mumpung saya masih punya kata-kata yang bisa dituliskan.

Tidak menyapamu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, kalimat ini saya copas dari wall teman. Kebetulan saja, sebelumnya saya juga sempat ngobrol dengan adik perkara sapa-menyapa.

Ada tetangga saya, bahkan saudara dekat, yang tidak mau menyapa keluarga kami. Sudah sejak lama. Perkaranya karena dia salah paham saja. Miss communication. Akan tetapi dia tidak mau tabayun dan keburu mutung ketika keluarga saya mau menjelaskan duduk perkaranya. Sampai sekarang tidak mau menyapa. Sapaan kami, senyum kami, dia tidak mau meliriknya sama sekali. Bagaimanapun kami tetap berusaha tersenyum karena sapa dan senyum kami tidak berbayar. Dia dan keluarganya memutuskan secara sepihak Tidak menyapamu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Aduh, jadi banyak pertanyaan yang ingin saya lontarkan ke orangnya secara langsung ~ andai saja dia tidak selalu membuang muka jika ketemu. Kadang-kadang dia juga sedikit keterlaluan, tidak menyapa, tidak tersenyum, bahkan mengajak tetangga yang lain untuk tidak menyapa dan menyenyumi keluarga saya. Aduh duh duh duh! Bahkan anaknya yang paling kecil dilarang larang untuk tandang ke rumah saya, untuk makan di rumah saya, untuk menyapa ibu saya yang notabene adalah buliknya. Ckckckckck! Astaghfirullah. Saya makin tidak mengerti saja.

Saya cuma mau tanya, prinsip ini, di sisi manakah kebenarannya? Bukankah lebih baik menyampaikan maksud hari kita kepada orang lain agar orang lain bisa memahami kita dan kita bisa memahami orang lain? Bukankah kita juga bisa mengusahakan untuk menjadi manusia yang berlapang dada? Bukankah ... bukankah ... bukankah .... 

Skripsi Jadi Monster


Monster seringkali diasosiasikan dengan hal-hal yang menakutkan. Selain monster, istilah yang diserupakan dengan sesuatu yang menakutkan adalah ‘hantu’. Jadi sebenarnya saya bisa saja memberi judul tulisan ini dengan skripsi yang jadi hantu, atau skripsi yang menghantui. Ah, tapi terlalu serem bukan kesannya? Tidak akan saya lakukan kalau begitu. Pada kenyataannya, skripsi bukanlah hal yang menakutkan.

Masa iya sih?

Kalau dipikir-pikir iya juga ya.

Nah lho? Kok yang nulis sendiri masih ragu-ragu?

Masalahnya saya juga sempat dan pernah memikirkan, bahkan mungkin sekarang masih menganggap, skripsi itu adalah momok ~ tujuan saya menulis ini sebenarnya adalah untuk berbagi agar ketakutan saya terhadap skripsi itu bisa terkurangi.

Memang skripsi semenakutkan apa?

Bagi yang belum pernah menyusun skripsi, pertanyaan ini untuk menjawab rasa ingin tahu. Bagi yang sudah mengalami dan dulu fine-fine saja, pertanyaan ini sekedar untuk menggelitik para pelaku eh, penyusun skripsi. Bagi yang mengalami seperti saya, ikut mengamini apa yang saya tulis. Begitu?

Tidak, tidak sengeri itu. Dari pengalaman saya pribadi, ketakutan itu hanya dihasilkan oleh prasangka saya akan hal-hal yang belum saya lakukan. Hal-hal yang belum saya lakukan tersebut terus saya pikirkan dan saya membuat alasan yang berupa prasangka-prasangka yang membenarkan bahwa ketakutan saya itu akan terjadi. Jadi saya merasa benar-benar takut itu akan terjadi. Berarti jika saya tidak memikirkan bahwa skripsi itu menakutkan dan saya berhenti berprasangka ~ saya lakukan saja apa yang harus saya lakukan ~ maka skripsi jadi tidak menakutkan!

Sebenarnya memang tidak ada yang perlu saya takutkan. Dosen pembimbing saya baik, mudah ditemui, kooperatif. Saya tidak perlu takut apa-apa, sungguh. Tapi seringkali saya membuat prasangka sendiri, mencari-cari alasan sendiri.

Memang pernah dalam prosesnya, saya mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Sebut saja ketika dalam satu bulan saya harus bolak-balik ke dinas di kabupaten yang jaraknya tempuhnya empat jam pulang pergi, tanpa hasil apapun. Bahkan saya disana di-underestimate habis-habisan oleh dokter yang tidak menerima desain penelitian saya ~ yang menurut saya sedikit arogan. Saya juga harus naik turun gunung untuk menemui informan saya yang tersebar di desa-desa. Tapi ternyata kalau semua itu dijalani, sekarang sudah selesai. Bayangkan kalau saya hanya membayangkan hal-hal tersebut. Bayangkan kalau saya hanya berprasangka dan membuat skenario sendiri. Hem, barangkali bisa menjadi seratus kali lebih seram dari kenyataan. Tapi, Allah berjanji kok bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saya pernah mengalaminya. Bersama kesulitan ada kemudahan.

Ya memang, skripsi bisa jadi monster kalau hanya dibayangkan dan membuat prasangka-prasangka tanpa mau mencoba untuk menjalani tahap-tahapnya. Lebih baik dikerjakan setahap demi setahap agar terasa lebih ringan ~ jika itu dianggap berat. Kerjakan dulu pelan-pelan. Karena saya tidak ingin pengalaman pahit saya ikut Anda rasakan. Hehehe!

Skripsi tidak seharusnya jadi monster. Bahkan saya punya nama yang manis lho biar nggak terlihat makin serem. Nama lain yang lebih manis itu adalah SWEETSKRIPSI. So sweet kan?!

Selamat berjuang untuk teman-teman yang sedang menyusun skripsi. Daebak!

7 Oktober 2012

Kringgg‼‼ Dua Kali Dua Tujuh


Mengawali tulisan tidak penting ini, saya menggunakan kata “Kringgg‼‼”. Biasanya kata ini merujuk pada nada dering telepon ketika sedang ada panggilan masuk. Kalau dalam daftar ringtone telepon genggam jaman dulu, biasanya nada yang berbunyi kriingg  ini dinamai vintage atau old.

Nah, ketika ada bunyi kringgg di telepon genggam saya, berarti ada yang sedang memanggil dua kali dua tujuh (anggap saja nada dering saya adalah kringgg). Dua kali dua tujuh itu adalah nomor saya sejak punya telepon genggam pertama kali.

Ada cerita, ketika suatu hari seorang teman menelepon saya dan setelah bertemu dia muring-muring. Ternyata penyebabnya adalah setelah melakukan panggilan ke nomor dua kali dua tujuh, pulsanya tersedot habis. Itu nomor apa sih? Beda operator ya sama punyaku? Kenapa nggak bilang dari dulu?  Bla bla bla bla …. Hem, nasib mahasiswa pecinta sejenis. Maksudnya kalau melakukan panggilan ke nomor yang operatornya sejenis tarifnya lebih murah. Jadi dia tidak perlu mengeluh ke saya kalau pulsanya sekarat. ^^v

Kata dia nomor saya sulit dikenali. Dipikirnya nomor dari operator yang sama, jadi asal pencet saja, calling, dan baru sadar kalau setelah itu cek pulsa, jengjeeeeng‼ Pppuuullsaaaakuuuuuuuuuu‼‼‼‼‼‼‼! Endingnya dia protes. Buruaaaan ganti nomeeerrr‼‼ OGAH!

Hehehe. Sejak saya punya telepon genggam, saya memang jarang berganti-ganti nomor. Jika saya mempunyai dua simcard atau lebih, pasti nomor saya yang permanen ya tetap dua kali dua tujuh. Simcard saya yang lain sifatnya lebih temporer dan hanya dipakai kalau sedang dibutuhkan saja. Dan sudah saya komunikasikan ke teman-teman lama bahwa nomor saya tidak pernah ganti ~ selama saya masih suka ^^v

Saya memutuskan untuk tetap setia pada dua kali dua tujuh, dengan alasan teman-teman lama yang jarang bertemu bisa berkangen-kangen ria dengan saya. Menelepon untuk sekedar say hello dan sebagainya. Walaupun sekarang ini banyak jejaring sosial yang bisa menghubungkan saya ke mereka dan mereka ke saya, tapi ada feel-nya sendiri kalau kita berbicara lewat telepon. Karena itulah saya setia dengan dua kali dua tujuh saya.

Kriiiiiiinggggg‼‼! 

2 Oktober 2012

Lebih Baik Diam Saja

Kadang-kadang diam itu lebih baik, ketika sekeliling kita ternyata semrawut, kacau balau. Jika dengan bersuaranya kita, kekacau-balauan itu akan semakin parah. Kadang-kadang, saya juga lebih memilih diam ketika lawan bicara tak bisa lagi menerima argumen kita, seberapapun logis dan solutifnya. Diam, mengurut dada. Begitu juga ketika saya melihat arogansi yang tidak bisa saya lawan dengan fisik maupun kata-kata. Pilihan terbaik saya, pergi ke belakang, dan menumpahkan kedongkolan itu dengan seliter airmata.

Arogansi dalam bentuk kata-kata lebih menusuk, dalam, … dan sakit. Sungguh tidak asyik.
Sebab musababnya, apalah yang saya tahu. Sebuah kebanggaan atas status barangkali. Sebuah kedengkian juga bisa jadi. Bukankah lidah memang tak bertulang? Dan saya kira, ada salah satu hal yang menyebabkab arogansi dalam bentuk tersebut di atas, tiba-tiba meluncur deras bak anak panah yang lolos dari busurnya.

Dan menjadi korban dari sebuah kearogansian, hem … itu lebih tidak asyik lagi.

Barangkali tidak penting bagi saya untuk menggali sebab, mengapa orang-orang itu menjadi sangat percaya diri mempertunjukkan arogansinya. Barangkali juga, diam adalah lebih baik untuk saya. Buat apa saya membalasnya jika hanya akan menambah semrawut dan kacau balau? Buat apa menghabiskan energi untuk meladeni sebuah pertunjukan arogansi?  Kata-kata, argumen, pembelaan, lebih baik disimpan karena tak akan bisa dimaklumi oleh orang-orang yang tidak mengerti. Saya tak perlu bicara prinsip, oh apalagi itu.

 Bukankah lebih baik diam?

Bagi saya, diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Saya hanya mengurangi waktu yang tidak berguna untuk meladeni hal-hal yang sama tidak bergunanya itu. Buat apa? Toh saya, tidak perlu membuktikan segala sesuatunya dengan kata-kata. Saya diam, tetapi melakukan aksi nyata. Kehidupan yang sudah Allah berikan untuk saya, adalah anugerah tersendiri yang harus saya syukuri dengan melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat. Biarkan jika mulut mereka tetap menganga. Biarkan seribu kata tak berguna terlontar sia-sia. Kata tak perlu dibalas kata. Itu makna diam untuk saya.

Semoga dengan diam, saya tidak akan melakukan hal buruk serupa kepada manusia lainnya.

21 September 2012

Surat untuk Bela


Bela, kalau punya kenang-kenangan indah dan berkesan susah ya buat dilupakan?? Kita sama. Apalagi di SMP beban pelajaran tidak seberat di SMA. Apalagi di SMP sudah punya teman-teman yang asyik dan saling memahami satu sama lain. Apalagi di SMP, punya guru-guru yang sayaaaaang banget sama murid-muridnya. Pokoknya nyamaaaan banget. Merasa disayang, merasa diperhatikan, merasa mendapatkan kebersamaan. Bukan begitu?

Nah Bela, ketika kita semakin gede, kita punya tantangan hidup yang semakin meningkat. Tantangan itu memang sudah seharusnya ada. Coba bandingkan adik kamu yang masih TK dengan kamu yang sudah SLTA, beda kan kebutuhannya? Beda juga kan cara berpikirnya? Tentu adik TK itu kalau minta mainan harus dituruti. Tidak peduli mamanya nggak punya uang, tidak peduli mainan itu mahal, tidak peduli mainan itu sebentar lagi cepat rusak. Pokoknya yang dia mau hanya mainan itu saja. Tidak peduli apa-apa di sekitarnya. Kita yang sudah SLTA tentu akan memikir ulang, apakah mainan itu bermanfaat bagiku atau tidak. Apakah uangku cukup untuk membeli mainan itu? banyak sekali pertimbangannya, hingga akhirnya kita memutuskan untuk tidak membeli mainan itu karena kita lebih butuh yang lainnya (beli buku misalnya).

 Bela, hehehe maaf jadi keman-mana. Intinya, sekarang posisi kamu sudah berbeda, kebutuhan kamu sudah berbeda. Biarlah kenang-kenangan itu tetap abadi dalam hati kita, yang bisa kita panggil kapan saja kalau kita sedang membutuhkannya. Tapi jangan terjebak pada satu kenangan itu sehingga kita tidak mau untuk mencari kenang-kenangan yang lain. Pada awalnya mungkin tidak betah berada di lingkungan baru, dengan orang yang baru, yang sama sekali tidak kita kenal (bahkan kadang pasang wajah angker). Akan tetapi, kita harus tetap berada di situ. Untuk apa? Untuk mengembangkan diri kita agar jadi manusia baru yang lebih baik. Nah, mengapa Bela tidak mencoba mencari kawan yang baik dan mulai mencintai mereka sehingga kalian bisa membuat kenang-kenangan baru seperti dulu di SMP? :)

Untuk adik-adik yang lain juga, yang belum betah dengan sekolah barunya dan tempat kos yang baru, cobalah lihat dirimu dan sekelilingmu, ada banyak hal baru yang harus dicoba lho! Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler misalnya, bikin kamu tambah teman dan tambah ilmu. Saya dulu juga ikut kegiatan-kegiatan seperti Pramuka, pecinta alam, kegiatan Islam, PMR, Jurnalistik, dst. Nah, hal-hal itu akan membantu kita untuk menjadi orang yang baru.

So, Sekolah baru????? Asyik tauuuu!!! :D
Selamat berjuang Bela! ;)

18 September 2012

The Power of 2000



Istilah ini saya dapat dari adik tingkat yang satu kos dengan saya. Waktu itu dia pulang dari silaturahim ke kos yang lama. Kemudian oleh-olehnya yang berupa sekarung cerita itu dibagi-bagi dengan saya. Saya terima sajalah, meskipun hanya cerita. Siapa tahu saya mendapat ilmu atau inspirasi dari cerita itu.
Nah, ternyata niat saya menjadi pendengar yang baik tidak sia-sia. Saya jadi terinspirasi oleh istilah yang barusan saya tulis menjadi judul coret-coretan ini, The Power of 2000. Apa tuh?

Cerita punya cerita, adik saya barusan diceritani temannya tentang the power of 2000 ini. Seorang teman dari temannya teman kos saya itu dia rajin menabung. Setiap mempunyai lembaran uang 20.000 ia masukkan ke dalam celengan. Tidak peduli dua puluh ribuan yang masih baru atau yang sudah lecek. Pokoknya ia tidak bisa untuk tidak memasukkan selembar 20.000 ke dalam celengan.
Dari sini saya belajar, mengapa saya tidak mengambil inspirasi dari amal baik ini dan menerapkannya dalam kehidupan saya sendiri? Ya meskipun selama ini sebenarnya saya pernah melakukan hal itu dan belum ada yang berhasil.

Akhirnya dengan segenap keberanian saya memulai. Awalnya saya bingung untuk menyimpan uang saya nanti di mana. Kalau di dalam dompet, wah itu sih sama saja. Saya hanya akan menyimpannya sampai besok pagi untuk beli sarapan. Ya kalau tahan sampai besok pagi, dan sepertinya memang tidak akan bertahan hingga besok pagi. So, menyimpan dengan memakai dompet? Impossible!

Lalu saya beralih ke toples-toples bekas. Ah, tidak ada yang menarik. Lagipula toplesnya sudah usang dan tidak layak jadi celengan. Toples, lewat! Terpikir untuk beli. Adik saya juga baru beli celengan lucu warna ijo yang berbentuk hati. Tapi harganya lumayan juga. Belum-belum sudah beli celengan, bagaimana dengan uang yang mau ditabung? Ah, beli celengan baru akhirnya juga lewat. Saya harus kreatif, cari celengan yang murah, mudah, aman dan representatif. Hehe!

Aha, akhirnya ketemu juga. Sssst, barang antik yang akhirnya saya temukan tidak usah saya ceritakan. Pokoknya ini adalah salah satu barang antik koleksi saya. Dijamin murah dan ya, emm aman. Barangkali aman dari tangan saya nantinya. Dan sedikit bocoran, namanya adalah HAZELNUT.

Kenapa pakai nama itu? 
Saya suka aja, begitu jawabannya. Pokoknya namanya hazelnut dan tidak ada yang boleh protes.

Daaan, yiha! Akhirnya saya memulai aksi the power of 2000 di bulan September ini. Lembar pertama 2000an yang masih lumayan baru masuk ke dalam celengan! Plung!

Eh, 20.000 apa 2000 sih? Kok nol-nya kurang satu? Iya, kalau saya belum berani nambah satu nol lagi di belakanganya. Dengan kebutuhan saya untuk persiapan sidang skripsi ini, saya tidak muluk-muluk untuk nyelengi 20.000 per hari. Cukup dari 2000 dulu.

Lho, kalau 20.000 ribu, lima hari saja sudah dapat 100.000? Kan cepet nanti banyaknya.
Iya sih. Bener juga. Tapi baru memulainya saja saya sudah mengapresiasi diri sendiri. Jadi mulai dari yang kecil-kecil dulu saja. Saya ingin membuktikan pada diri sendiri kalau saya bisa konsisten dengan niat saya untuk menabung. Suatu saat nanti, barangkali kalau pendapatan saya perhari sudah melebihi 100.000 atau 500.000 saya berani menarget lebih banyak.

So, akhirnya hazelnut hanya menerima 2000 per hari? 
Iya, begitulah. Tidak per hari sih, ya setiap ada lembaran 2000an hazelnut akan mendapatkan jatahnya.
Kadang-kadang sih saya berat melakukannya. Kalau saya sedang sangat butuh dan tidak ada cara lain, hazelnut terpaksa tidak saya beri makan. Biarlah dia tunggu lembar 2000an keesokan harinya. 

Lalu, kalau nanti hazelnut sudah penuh kira-kira mau buat apa? 
Buat apa ya? Hem, saya punya banyak impian. Saya ingin suatu saat nanti hazelnut bermanfaat untuk membantu mewujudkan impian itu. Yang jelas hazelnut itu nanti manfaatnya bisa dirasakan oleh orang-orang yang saya cintai juga.  

ah, khayalan tingkat tinggi rupanya. 
Ehehehehe, bukan begitu. Saya hanya ingin belajar dulu, menata diri supaya saya bisa memetik buah dari apa yang saya tanam. Semoga niat saya dicatat sebagai salah satu kebaikan. Dan the power of 2000 benar-benar bermanfaat. Bismillah!

13 September 2012

Risma, Karisma dan Harapan

Ini pembicaraan kami yang kesekian tentang perjalanan dakwah di sekolah dan alumni Risma. Pembicaraan yang ujung-ujungnya hanya menghasilkan kegalauan dan pertanyaan 'apa yang bisa kita bantu?' hanya terjawab dengan 'kita bantu dengan doa'. Menyedihkan bukan?


Sejak menjadi alumni Risma, saya baru tiga kali (yang ingat) bertandang ke pertemuan alumni yang rutin diadakan pada bulan Syawal (H+5 Idul Fitri versi pemerintah). Itu pun karena ajakan 'paksaan' teman-teman akhwat yang dulu satu perjuangan berada di Risma. Kini mereka yang sering mengajak saya sudah memiliki kondisi yang berbeda (yang satu sudah menikah dan dalam keadaan hamil sehingga tidak memungkinkan untuk terlalu moving sedangkan yang satu lagi terjebak pada profesinya yang menuntut dia hadir selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu). Bayangkan, dia sudah hampir tidak bisa ditemui. Dan tanpa mereka, saya terlalu minder untuk berhadapan dengan para junior dan senior yang hadir dalam pertemuan itu. Sebenarnya bukan ditekankan pada mindernya, tapi lebih pada males nggak punya temen yang nyambung kalau pas pertemuan sehingga terkesan seperti bolang *bocah ilang*.


Kembali kepada kegalauan yang sering tidak terjawab itu. Sebenarnya baru saja  saya membaca note Karisma tiga tahun yang lalu (2009) yang isinya bahwa di Pacitan sendiri ada Karisma ikhwan yang akan mengadakan pertemuan rutin untuk menghubungkan Karisma yang di luar Pacitan dengan adik-adik Risma yang ada di Pacitan. Namun itu tidak pernah saya temui. Selaku alumni yang ada di luar Pacitan, saya tidak pernah menerima informasi apapun dari Karisma yang sering mengadakan pertemuan rutin di Pacitan itu. Atau jangan-jangan mereka sudah tidak rutin pertemuan lagi? Ah, semoga saja tidak. Semoga saja saya yang ketinggalan informasi sehingga tidak pernah tahu.

Lalu kegalauan kami berlanjut pada pertanyaan 'apa yang bisa kita berikan?'. Posisi kami saat ini berjarak jauh dengan sekretariat Karisma. Dan kami di sini dengan amanah kami yang juga tidak terbilang sedikit. Lagi-lagi itu juga belum terjawab. Teman saya kemudian berjanji akan menghubungi mahasiswa yang ada di Surabaya. Mengajak mereka untuk diskusi dan menyumbangkan pemikirannya untuk Risma. Saya  ingin sekali mengaktifkan forum IMMP.  Menggagas lagi kegiatan seperti kegiatan TMB sembilan bulan yang lalu. Pertanyaannya, Mungkinkah?

Entahlah, semoga yang sedikit ini setidaknya bisa menambah perbaikan ke depan. Karena berdasarakan kabar dari teman saya yang kemarin ikut halal bihalal, bahwasanya adik-adik pengurus Risma masih bersemangat untuk menuntut ilmu dalam forum-forum lingkaran kecil. Syukurlah. Dengan 'sisa-sisa' semangat itu, dan juga semangat kami yang se-visi, semoga bisa bangkit kembali masa-masa gemilang itu.

Harapan itu masih ada, bukan?